Pindahan…

Blog ini per september pindahan ke blog baru ya…

http://catatanpandan.wordpress.com/

Makasih…

Advertisements

Terima kasih

Terima kasih ya….
Sudah memberi banyak hadiah istimewa
Yang membuat aku bertumbuh bersiap berubah

Terima kasih ya….
Sudah memberi banyak hadiah istimewa
Yang menyulut semangat membarui niat memantapkan hati

Terima kasih ya….
Sudah memberi banyak hadiah istimewa
Yang semoga mempererat langkah kita menuju senja

Terima kasih ya….
Sudah memberi banyak hadiah istimewa
Hadiah-hadiah yang terasa sangat mahal untukku

Terima kasih ya….
Sudah memberi banyak hadiah istimewa
Yang mungkin buat banyak orang sepele

Terima kasih ya….
Untuk kesabaran, kepercayaan, atau sekedar waktu dan ruang untukku sendiri….
Untuk semuanya….
12 tahun 1 bulan 14 hari….
Dan masih kita berhitung….
Semoga sampai nanti….

Jogja, 19 desember 2014
*masih tak jua kunjung percaya menuliskannya di jogja 😀

Sharing Hasil Pelatihan Program Disiplin Anak (PDA) bagian 2

Lanjuuuutttt….mumpung sikon memungkinkan dan ingetan juga masih seger…

Setelah baca teorinya, lanjut kita ke prakteknya ya, tapi sebelumnya ada baiknya kita paham dulu sedikit, gimana pentingnya poin 1 di bagian 1, karena dengan dasar yang kuat, langkah-langkah praktis ini jadi efektif tidak hanya untuk situasi sekarang tapi sampai nanti ketika mereka sudah dewasa, langkah-langkah ini akan jadi efektif bukan hanya ketika kita bersama mereka, tapi juga disaat kita tidak bersama mereka. ada kan anak-anak yang hanya menjalankan aturan orangtua hanya ketika orangtua ada bersama mereka.

Dasarnya anak itu ya tetep anak-anak, bukan manusia dewasa yang diperkecil, jadi dengan kapasitas mereka sebagai anak-anak, yang belum sempurna baik penalarannya dan kemampuan fisiknya, kita tidak bisa menilai dengan standar kita yang sudah tua-tua ini. Penilaian kita harus disesuaikan dengan kemampuan mereka.

Kita, orang tua, cenderung banyak bicara alias ngomel ketika anak bermasalah, abis ngomel alih-alih orangtua introspeksi diri, malah menyalahkan beberapa hal berikut ini:

  • ANAK

padahal harusnya ndak boleh itu, karena fitrahnya setiap anak ga ada yang berniat untuk membuat masalah. Fitrah mereka itu positif selalu, yang membuat jadi negatif sebenarnya kita ini orangtuanya. Fitrah mereka jujur (tapi ketika mereka jujur, bukannya kita berikan reward, malah kita marahin), fitrah mereka belajar (tapi malah kita yang mematikan rasa ingin tahunya), fitrah mereka disiplin (tapi malah kita yang merusak skedul biologisnya untuk menyesuaikan dengan jadwal kita), fitrah mereka patuh (tapi karena kita tidak bisa dipercaya, mereka jadinya tidak patuh sama kita)

  • TEMAN

ini juga ndak boleh, karena harusnya jadi pertanyaan buat kita orang tuanya, kok bisa anak kita lebih nurut kata temennya daripada kata kita. Ini tandanya, pengaruh kita kurang untuk mereka, artinya apa lagi? yaaaa kita kurang menjalin keakraban dengan mereka.

  • SEJARAH

nah ini….jadi nyalahin riwayat keluarga, pertanyaannya, meski memang riwayat keluarga begitu, kemana kita orang tuanya kok nggak do something mencegahnya terjadi.

  • PERBEDAAN KARAKTER

nyalahin ini juga,tiap anak beda-beda, memang, setiap kita itu unik…tapi balik lagi pertanyaannya buat orangtua, lha meski berbeda, klo kita orangtuanya bisa deket sama anak-anak, ya tetep ga masalah, kita jadi bisa menghandle mereka sesuai karakternya, insyaAllah.

 

See, semua kuncinya adalah orangtuanya kudu kenal anaknya lahir batin, punya keakraban yang baik, sehingga anak-anak nyaman sama kita, menerima pengaruh kita, dan bisa membentengi diri dari pengaruh luar terutama yang negatif.

Beberapa masalah yang sering kita alami sebagai orangtua, mungkin tidak semua mewakili, tapi biasanya bisa kita gabungkan solusinya karena sejenis.

1. Hobi jajan (snack,mainan,buku dll)

  • untuk yang dibawah 7tahun, jangan diberikan uang saku karena mereka belum paham nilai uang, beri mereka solusi jajan dengan skedul,contoh: snack time hari selasa dan kamis setiap minggu, atau jajan hanya boleh dilakukan sehari 2x budget maksimal 5rb, atau beli maenan tgl 10 setiap bulan dst
  • untuk yang 7th keatas, mulai diberikan uang saku (khusus untuk jajan), bukan harian tapi mingguan, beri mereka otonomi untuk mengatur uangnya sendiri, pada awalnya mereka mungkin akan kemaruk membelanjakan uangnya, orangtua diharapkan tidak melakukan intervensi dengan memberi sokongan dana lagi. Biarkan anak-anak belajar resiko dari penggunaan uangnya yang berlebihan, lambat laun mereka akan bisa mengatur keuangannya. banyak dari kita yang tua-tua ini diajarkan menabung sejak dini, tapi tidak diajarkan mengelola keuangan, akibatnya ketika dewasa kewalahan.
  • Berkaitan dengan pemberian uang saku, dan menggunakannya untuk infaq/shodaqoh. Mengajarkan perbuatan amal ini, tidak bisa langsung, karena infaq/shodaqoh sifatnya abstrak buat anak-anak, langkah kongkrit mengajarkannya adalah dengan kita membuat skedul mengantar hadiah pada tetangga, kegiatan ini, bentuknya lebih jelas untuk anak-anak, dan akan lebih mudah bagi kita kelak untuk menerangkan konsep infaq/shodaqoh tadi.

2. Kecanduan TV/game/internet

  • Beri batasan yang jelas (tv 1 jam, game 30 menit, internet 1 jam)
  • Buat konsekuensi yang tegas dan jelas
  • Tontonan harus sesuai dengan kesepakatan (kaitannya dengan umur dan materi acara)
  • Bila terjadi pelanggaran berulang, konsekuensi ditambah

3.Berantem (berantem ini sesuatu yang tidak bisa dihentikan, karena adalah peristiwa berulang)

  • MILIK SIAPA, periksa dulu, misal karena berebut barang, barang milik siapa, kembalikan pada pemiliknya, bila barang umum kembalikan pada tempatnya, proses ini juga akan mengajari anak untuk menghormati barang orang lain
  • SIAPA DULUAN, biasanya untuk barang milik umum, siapa yang duluan maka dia yang berhak
  • BERGANTIAN, karena poin diatas dirasa tidak adil bagi pihak lain, maka dilakukan bergantian ato skedul.
  • BICARA-LAWAN-LARI-LAPOR, diterapkan ketika anak mendapatkan bullying, baik verbal atau nonverbal,latih anak untuk bicara dengan lawannya, dengan suara keras, sampaikan perasaannya (sakit,marah dsb),latih anak untuk melakukan pertahanan dengan pikirannya dulu (pake verbal) baru dengan pertahanan tubuh, lawan balik (ketika barang diambil teman,lawan balik dengan diambil),ingat,melawan balik tidak selalu dengan fisik (kalaupun dengan fisik,its okay, karena mereka membela diri selama lawan balik dilakukan di TKP, bila dilakukan diwaktu dan tempat yang lain,namanya balas dendam dan harus ditindak), bila setelah melawan tidak dapat diselesaikan masalahnya, anak boleh ambil tindakan lari atau lapor, situasional sifatnya.
  • JIKA TIDAK MELIBATKAN FISIK LATIH ANAK BERMUSYAWARAH KEMUDIAN MENGAMBIL KEPUTUSAN BERSAMA, ini biasanya ketika kita tidak paham dengan duduk masalahnya, ajarkan mereka untuk menyelesaikan masalahnya.

4. Rewel, cengeng, ngamuk, ngeyel

  • cari tau penyebabnya karena alasan alamiah (lapar,capek.sakit) ato karena alasan ikhtiar/strategi.
  • bila karena alasan alamiah datangi, hentikan dengan memenuhi kebutuhannya, bila karena alasan ikhtiar, biarkan saja

Meski contoh kasusnya cuma 4, tapi semoga bisa jadi dasar memecahkan masalah yang lain dan bermanfaat.

Ingat: kembangkan KONSEKUENSI (direncanakan) bukan ANCAMAN (spontan)!!!!

Sharing Hasil Pelatihan Program Disiplin Anak (PDA) bagian 1

Bismillah…

Alhamdulillah, sudah lama banget pengen join program Auladi yang ini, cuma belum rejekinya. Kemaren akhirnya ikut, malah ditempat baru, Jogja, yaaa…baru 3 minggu ini kami pindah jadi warga situ. Seneng kemaren, selain dapet ilmu dari Abah Ihsan, juga dapet teman-teman yang baru, berharga banget buat saya yang masih pendatang baru disini.

 

Sebelum saya lanjutkan share hasilnya, saya mau minta maaf dulu, mungkin ada yang tidak berkenan, maksud saya sharing bukan untuk menggurui, karena saya sendiri masih dalam proses belajar dan ikhtiar, hasilnya juga belum bisa dilihat, minta maaf lagi saya bukan mau pamer, nih saya sudah belajar ini, sama sekali bukan,insyaAllah…saya menuliskannya lagi lebih karena untuk self reminder buat saya, semakin banyak saya membaginya, semakin besar rasa malu dalam diri saya untuk tidak melaksanakannya, selain itu dengan menuliskannya, saya berharap saya jadi lebih mengingatnya, dan lebih mudah untuk saya mencari ringkasannya bila saya butuhkan sewaktu-waktu, semoga, aamiin….

 

Baiklah, sepertinya langsung saya tuliskan saja….sebagai pembuka, perlu kita tahu dulu, macam-macam behaviour, secara umum ada 3,yaitu:

  • Unwanted Behaviour (seperti, rewel,cengeng,tidak mandiri,dll)
  • Bad Behaviour (seperti mencuri, menipu,dll)
  • Disorder Behaviour (seperti ADHD,dll)

Unwanted Behaviour ini sesuatu yang normal dan umum terjadi pada anak-anak, sehingga tentu saja jadi masalah klasik yang banyak dihadapi para orang tua. Tapi berawal dari situ, tanpa penanganan/tidak diatasi, Unwanted Behaviour dapat berubah menjadi Bad Behaviour. Pada PDA ini, kita akan belajar menghadapi Unwanted Behaviour ini. Sementara untuk Disorder Behaviour, butuh para ahli khusus untuk membahas dan mengatasinya.

Unwanted Behaviour ini mengarah pada disiplin anak, dimana masalah mendasar pada disiplin anak adalah:

  • Anak tidak melakukan yang seharusnya
  • Anak tidak berhenti melakukan yang dilarang

Respon umum orangtua menghadapinya:

  • Berbicara/membujuk/negoisasi
  • Membentak
  • Memukul/mencubit

Padahal. ketika anak berbuat buruk, sebenarnya orangtua dilarang banyak berbicara tapi lbi banyak bertindak, karena:

  • ketika kita marah omongan jadi tidak terjaga
  • energi yang dikeluarkan lebih banyak jatuhnya jadi lebih capek

 

Langkah-langkah dasar menghadapi Unwanted Behaviour ini adalah:

1. Menjalin keakraban,kedekatan dengan anak.

poin ini adalah hal pertama dan utama yang harus dilakukan dulu oleh orangtua, karena apa, anak yang memiliki kedekatan dengan orang tua akan memiliki ketahanan mental yang lebih baik. Dengan kedekatan orangtua dan anak yang dimiliki, sebagai orangtua, kita dapat menanamkan pengaruh pada anak sehingga anak punya cukup benteng untuk menangkis pengaruh-pengaruh dari luar yang belum tentu semuanya positif. Bagaimana caranya menjalin kedekatan dengan anak ini, latihan awalnya cukup dengan menyediakan waktu sekitar 30 menit sehari bersama anak, dimana disana kita bergaul lahir batin dengan anak, benar-benar fokus tidak disambi dengan aktifitas lain. It looks so simple and easy at first, tapi pada prakteknya 30 menit itu cukup lama pada awalnya, bahkan untuk ibu dirumah, tapi dengan tekat yang kuat, insyaAllah, kita bisa.

2. Tidak membatasi anak

Sering dari kita orang tua membatasi kegiatan anak, karena perasaan kawatir atau tidak percaya, atau bahkan, sepertinya yang paling sering, melarang karena kita “enggan” menjaga anak atau menerima resiko dari aktifitas anak ini. Padahal aktifitas yang mereka lakukan sebenarnya adalah bagian dari proses belajar mereka, biasanya mereka disini belajar menantang kesulitan meningkatkan kemampuannya(contoh aktifitas: manjat, kejar-kejaran dll). Jadi anak boleh dibatasi HANYA ketika:

  • aktifitas anak membahayakan diri sendiri
  • merugikan orang lain
  • melanggar hukum agama dan negara

3. Tegas/tega/konsisten/istiqomah juga tidak ingkar janji/bohong pada anak, apapun tujuannya

kekonsistenan dan kejujuran dibutuhkan agar kita dipercaya oleh anak, sehingga anak tidak memandang rendah pada orangtua, menghormatinya karena memang layak diihormati sebagai pribadi jujur dan tegas.

4. Memberikan batasan yang jelas dan konsekuensi yang jelas

Dalam hal ini, ajak anak terlibat didalamnya, sehingga mereka juga ikut memutuskan batasan dan konsekuensi yang ada. secara natural, manusia tidak akan mengingkari keputusan yang dia buat sendiri. Aturan berupa batasan dan konsekuensi ini, sifatnya juga harus direview ketika pelaksanaannya sudah tidak ideal lagi, misalnya ketika anak sudah bisa mencari celah atau strategi untuk melanggar/menghindarinya.

Konsekuensi sifatnya harus konkrit dan memiliki prinsip:

  • bukan berupa kebaikan karena akan membuat anak membenci aktifitas tersebut (hafalin qur’an, cuci piring,dst)
  • konsekuensi tidak boleh diberikan untuk sesuatu yang tidak sengaja dan belum ada kesepakatannya
  • konsekuensi tidak boleh mempermalukan dan menyakiti

konsekuensi berupa: MENGURANGI HAK dan ISOLASI (TIME OUT)

tempat untuk isolasi:

  • Diluar rumah, karena tempatnya luas (outdoor) dan terpisah,ada batasnya (berbatas tembok atau pintu), karena terpisah, anak jadi merasakan sedang “dihukum”, tempat ini dipilih ketika sikonnya aman untuk anak.
  • Didalam kamar

Untuk anak dibawah umur 4 tahun, isolasi cukup 30 detik, jangan menunggu dia selesai menangis,karena pola pikirnya masih konkrit, sehingga saat isolasi stop ketika dia masih menangis dia jadi paham kenapa diisolasi.

Ujian umum ketika melakukan isolasi:

  • Tangisan makin keras (bagus, berarti memberikan efek)
  • Menghancurkan barang (tegur dan hentikan, tapi tetap lanjutkan isolasi)
  • Menantang balik,meledek (setelah selesai isolasi, diminta untuk minta maaf, kalo tidak mau perpanjang isolasinya jd 2x lipat)
  • Kabur (katakan untuk stay,tetap tinggal, bila tidak isolasi jadi 2x lipat)
  • Kehadiran kakek/nenek (buat isolasi/konsekuensi tertunda, meski sebenarnya tidak ideal)
  • Diselamatkan oleh tetangga (sampaikan pada tetangga bahwa kita sedang mendidik anak)

contoh lama waktu isolasi:

  • usil 15 menit
  • mukul 30 menit
  • bicara kotor 15 menit

Langkah-langkah tadi dilaksanakan berurutan ya….lakukan dari langka 1 dulu, wajib….karena langkah 1 yang mendasari langkah-langkah selanjutnya…

itu dulu teorinya….rehat dulu….ntar bersambung ke kiat-kiat praktisnya, langsung ke kasusnya…tapi inget ya, LANGKAH 1!!!!!!! DASARNYAAAA!!!! hihihihihi….

GT

Apa itu GT?? Itu singkatan dari Ge Tour…. Apa lagi itu? Itu adalah sesi konsul private dengan Om Ge, alias Om Toge Aprilianto…. Siapa beliau? Beliau tak lain dan tak bukan adalah seorang psikolog dari Surabaya, yang biasa dikenal sebagai pengacaranya anak-anak… Klo mau dapet ilmu dari beliau bisa tuh follow akun twitternya @sigoloktoge.

Nah, ngapain gitu saya tiba- tiba cerita soal beliau…ini karena ramadhan kemarin, dapet rejeki bisa ikutan GT tadi, alhamdulillah…. Meski saya ndak join milisnya beliau tp saya sangat berharap sekali, one day, bisa ikutan GT ini….berharap dari situ saya bisa tau gimana anak-anak saya, apa bener seperti yang saya tau, dan juga pengen tau, apa yang harus kami, saya dan suami perbaiki dalam membangun relasi dengan anak-anak.

When there is a will, there will be a way….bener banget itu, bersua dengan mbak Ade, seorang teman, di sekolah si Mas, kebetulan anak beliau satu kelas dengan si Mas, membuka jalan saya bisa ikut GT ini. Awalnya saya pikir kami membicarakan hal yang sama seminar ParenThink di bulan September, tapi ternyata yang diomongin beda, cuma sama hashtag aja, Om Toge hehehehehe..

Berbekal kontak dari mbak Ade, langsung berburulah saya, karena memang udah last minute. Usaha aja itu, klo dapet alhamdulillah, klo nggak mungkin belum rejeki kami. Tapi ternyata, alhamdulillah….itu memang rejeki kami, duuuuhhhh senengnyaaaa….. Dapet deh sesinya, langsung daftarin untuk Kakak dan Mas. Tugas selanjutnya, kirim foto sama email cerita soal anak-anak, untuk yang ini, karena kami sudah berniat untuk dapet input baru, segala sesuatunya ” diumbar” deh, plus minus anak-anak sepanjang kami tau ditulis semua deh disitu, jadi kaya ndongeng.

Menjelang waktu yang sudah disepakati, entah kenapa, saya merasa super duper grogi, saya tau saya tidak siap ” dihakimi” orang asing, tapi suami konsisten mengingatkan, ” ingat ummi, kosongkan “cangkirnya” ummi, ummi pengen lebih baik lagi dengan anak-anak, harus siap menerima masukan, meski mungkin itu ga enak.” Yaaaa….manusiawi lah, mungkin saya merasa, klo urusannya anak, baik buruknya kayanya bakal banyak emaknya yang kena, klo baik sih ya enak-enak aja kita nerimanya, tapi klo nggak, siapkah? Respon wajar biasanya sih ya bakalan langsung defensif hehehehe….

Akhirnya, tibalah saat itu….ketemuan di tempat yang disepakati, di sebuah PG/TK, abi juga langsung cuti ngedadak, setengah hari. Sesi itu, diawali dari Om Toge ngamatin anak-anak selama 30 menit, mereka main, berinteraksi bertiga ( si Abang juga diajaklah), selanjutnya sesi ngobrol-ngobrol sama kami…

Wiiii….ya gitu deh akhirnya, ngobrol dengan Om Toge,membuka cakrawala kami soal anak-anak kami, jadi paham latar belakang mereka begini begitu, bagaimana kepribadian mereka…. Dengan bahasa lugas bin ceplas- ceplos cenderung nylekit ( hehehehe) Om Toge menyampaikan hasil analisanya soal anak-anak, ga semuanya enak didengar lhoo, kadang ada yang bikin saya bernafas lega kadang ada yang bikin saya merasa ditampar, kadang ada yang bikin saya terkikik sambil membatin, ” oooo its so me…”

Untungnya ituuuu, untuuuuunnnggggg….suami sudah menghipnosis saya dari beberapa hari sebelumnya, alhamdulillah saya bisa legowo mendapat input dari Om Toge, klo ga mungkin, saya bakalan bete bin ga cocok sama beliau….lhaaa gimana lagi, kaya saya bilang tadi, ga semuanya lho enak didenger, dan bagian yang ga enak didenger itu, seringnya karena andil saya, emaknya anak-anak tadi, kalo ga karena mereka ngopi kelakuan saya ya karena perlakuan saya yang kurang tepat dalam merespon mereka hehehehehe….

Parenting yaahhh, sudah ga ada sekolahnya, prakteknya beda-beda, bahkan untuk anak-anak kita sendiri, karena mereka memang nyata pribadi yang unik, punya ceritanya sendiri….selain itu, parenting juga dinamis sepertinya, maksudnya ya karena kita dan anak-anak itu jiwa yang terus tumbuh setiap harinya….

Kisah hari itu, bakalan terus kami kenang sepertinya, sebagai satu titik balik kami sebagai orang tua….sepulang dari sana, hanya satu yang saya pikirkan, harusnya saya memang konsul dulu ke psikolog baru deh belajar ilmu parenting dari buku dan seminar hihihihihihi…bukan kenapa sih, klo memang merasa sudah paham bin ngerti sama anaknya sih gapapa, tapi klo ternyata belum ato ternyata kurang tepat mengenali anaknya seperti saya misalnya hehehehehe….susah juga mengaplikasikan ilmu-ilmu yang sudah didapet tadi….skali lagi buat saya lho yaaa, karena saya ga pinter-pinter amat orangnya…

Semoga bisa semakin bijak menjaga amanah-amanah istimewa dari Alloh ini….aamiin… Makasih banyak buat mbak Ade, yang udah ngasih info, buat mbak Titin, yang sudah arrange waktu sesi saya dan yang pasti buat Om Toge, untuk semua pencerahannya, banyak berkah buat kalian yaa, aamiin…

Sebelas

Yaaaa….ga kerasa, sudah sebelas taun ternyata kita satu biduk ya bi….

Seperti baru kemarin, tergetar mendengar ijab qabulmu…

Suka dan duka, mereka yang datang dan pergi, tawa dan tangis, ternyata sudah kita bagi berdua, sebelas tahun ini…

Mimpi yang sudah kita raih, mimpi yang sedang kita perjuangkan, dan mimpi yang akan kita rajut….

Semuanya mewarnai hati kita, memekarkan jiwa kita, mendewasakan pribadi kita…

Berharap semoga selalu penuh cinta, penuh rindu dan penuh rasa….

Berdoa semoga tangan kita selalu tergandeng, mengayunkan langkah seirama menuju temaram senja….

*Happy Anniversary ya Suamiku*