…..

maaf ya…

seminggu ini mungkin kalian sedikit terlantar, bukan karena aku malas melayani kalian, tapi karena mungkin aku harus rehat sejenak

maaf ya…

seminggu ini mungkin jadinya aku sedikit emosional, bukan karena kutaksayang pada kalian, tapi karena mungkin aku kesal tak bisa melakukan apa-apa

maaf ya…

seminggu ini mungkin rautku jarang terhias senyum, bukan karena aku marah pada kalian, tapi karena mungkin malas sedang menemaniku

maaf ya…

insyaAllah, mulai hari ini dan hari-hari didepan, sikapku akan lebih baik lagi, melayani kalian kembali dengan penuh cinta dan semangat, menghias parasku dengan senyum selalu…

InsyaAllah, mulai hari ini dan hari-hari didepan, aku akan lebih berhati-hati menjaga jiwa dan raga, akan belajar lebih banyak lagi bagaimana bercanda dengan waktu…

inginku sederhana ternyata, ingin bersama, menemani kalian selalu, melihat kalian tertawa, menangis, berbagi cinta, berbagi cita, berbagi harapan hingga senja datang memutihkan rambut…

 

*I love you Abi, Kakak, Mas dan Abang*

Catatan Awal Tahun…

Kepada siapa kita kerap kali berburuk sangka??? yaaa…kepada anak kita sendiri, ironis….hehehehe…

Kepada siapakah kita kerap bersikap superior??? kita selalu benar, tidak pernah salah??? yaaa…kepada anak kita sendiri, semakin ironis…hehehehe…

yaaa….itu yang akan jadi catatan awal tahun saya,catatan awal tahun kami…

Sering, tanpa kita sadari, sering sebenarnya kita itu berburuk sangka sama anak sendiri, seringnya malah sama anak yang paling gede, coba deh kalo ga percaya, setiap si adek nangis, secara otomatis kita bakal bertanya, entah gimana pun susunan kalimatnya, tapi nadanya sama, menuduh si gede sudah bikin si adek nangis hehehehe….

Sering, tanpa kita sadari, ternyata kita selalu merasa benar daripada anak, tak pernah kita dengar dulu penjelasannya, tak pernah kita coba tau sikonnya langsung aja mutusin pasti ini A ato B, mungkin kita merasa kita lebih banyak tau tentang kehidupan ato dunia daripada mereka hehehehe…

Sayangnya, yang tidak pernah ato mungkin tidak mau kita sadari adalah bahwa, sesungguhnya anak-anak kita itu miniatur kita, anak-anak itu adalah cerminan sikap, watak dan perilaku kita…

Mungkin celotehan-celotehannya adalah copas dari kalimat-kalimat kita…

Mungkin tingkah lakunya adalah copas dari perilaku kita…

Mungkin keusilannya adalah copas masa lalu kita….

Sebagai anak dulu, mungkin kita juga kerap bete, kesel bin pegel, mungkin, setiap orangtua marahin kita, menuduh kita. Tapi sayangnya setelah jadi orangtua, kita lupa perasaan itu, ingetnya adalah bahwa kita sebagai orangtua itu selalu benar, SELALU BENAR…

Well…

Karena itu, mungkin ini salah satu hal yang mesti bisa kami perbaiki dari hari ke hari, belajar dan belajar untuk tidak berburuk sangka sama anak-anak, berlatih dan berlatih untuk selalu berendah hati mengakui kesalahan sebagai orangtua…

Resolusi awal tahun???

Tidak juga…ini hanya lebih yaa karena pas posting tulisan ini ya pas tahun baru dan saya bingung mau kasih judul apa hihihihi…

Another homework…

Sekedar Catatan

Baca twitnya MOTIVAKIDS barusan, tentang meminta maaf kepada anak, walo yang dibaca baru 4 twit, tapi entah kenapa meresap banget. Mungkin juga karena mendapat “pencerahan” sederhana beberapa hari kemarin hehehehe….

Sejak ada si Mas dalam keluarga kami, entah mengapa, seperti ada kesepakatan tak tertulis diantara kami, bahwa:

  1. Kami tidak akan berharap banyak pada anak-anak, kami tidak mau hidup mereka terbebani mimpi kami, kami tidak mau sakit hati bila kelak ternyata mereka berdiri jauh dari mimpi kami.
  2. Kami tidak akan menggantungkan hidup kami kelak pada anak-anak, kami tidak mau membebani mereka dengan hidup dan masalah kami, kami tidak akan jadi pagar pembatas mimpi mereka, hidup mereka adalah murni punya mereka, bukan milik kami.

Intinya, kami hanya ingin menyederhanakan definisi berbakti kepada orang tua. Apalagi memiliki 3 anak laki-laki, kerap orang berkomentar, masa tua kami akan susah bila tak punya anak perempuan, bakalan tak ada yang merawat hehehehe…Itu mungkin akan terjadi ketika ekspektasi saya pada anak-anak demikian tingginya. Bukan kenapa, banyak cerita kami lihat, kami dengar ato bahkan kami alami, seringnya kesalahpahaman antara keinginan orangtua dan anak, menjadi jurang pemisah di antara mereka, menjadi tembok pembatas antara doa dan maaf. Toh anak juga manusia biasa, bukan mereka tempat menggantungkan harapan dan impian kita, cuma ALLAH tempatnya Smile

Kadang, orangtua punya harapan tertentu, bagus kalau disampaikan, anak bisa tau seperti apa yang diinginkan orangtua, tapi kalau tidak tersampaikan, hanya kecewa dan kecewa yang dirasakan kelak ketika ternyata tak sesuai dengan harapan. Ibarat kata, kita ingin anak belok kanan, kita ndak bilang,”Nak, ntar belok kanan ya…”,ketika ternyata anak belok kiri, kita kecewa sendiri, marah sendiri dan menganggap anak salah, mengecewakan dst…duuuhhhh….

Saya, sekarang, hari ini, inginnya kelak saya hanya memandang anak-anak dengan sayang, tak hendak memandang mereka sebagai orang yang pernah mengecewakan saya. Saya, sekarang, hari ini, inginnya kelak melihat anak-anak saya mencapai mimpi-mimpi mereka, bukan mimpi saya. Saya, sekarang, hari ini, inginnya kelak, anak-anak memeluk saya sebagai teman, mencium saya sebagai ibu bukan sebagai orang yang sudah secara implisit maupun eksplisit memaksakan mimpi saya pada mereka. Kendati saya tau, andaipun saya begitu, mereka akan melakukannya tanpa terpaksa…

Karenanya kembali pada twitnya MOTIVAKIDS tadi, ga salah dari sekarang belajar minta maaf pada anak. Kami sendiri memulainya di Idul Fitri kemarin, kami yang sungkem sama anak-anak hehehehe….kami hanya ingin mereka belajar, bahwa kami juga manusia, tak selalu benar, kami hanya ingin mereka tau, kami orangtuanya ini tak sempurna.

Tapi, sebagai orangtua, perjalanan saya masih sangat pendek, entah keinginan saya hari ini tadi akan berubah atau tidak. Tapi paling tidak saya akan mengusahakannya, minimal sampai besok…

Dan sebagai anak, saya tau, saya tidak sempurna, tidak selalu membanggakan, dan tidak selalu seperti yang diinginkan orangtua. Tapi saya akan selalu mengusahakan yang terbaik dari saya untuk mereka, orangtua saya, orangtua kami…

Ya Allah, semoga Engkau berkenan menjadikan anak-anak kami, Yusuf, Atta dan Hilman, sebagai manusia-manusia yang istiqomah ibadahnya, agar mereka selalu dekat padaMu, Amin…”

« Older entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 102 other followers